Explore Zona Dewasa

Cerita 7 Hari Ngentot 100 Cewek Lendir 2

Tradingan.comKembali kuguyurkan air ke kaki kananku. Dan kini saatnya untuk mencuci kemaluanku. Aku merasa perlu sedikit mendramatisir penampilan. Kuelus seluruh permukaan kemaluanku. Tanganku membelah bibirnya dan jari-jariku menggosok celah-celahnya. Dua jari kubenamkan-benamkan ke liang vaginaku untuk mengorek dinding-dindingnya hingga wajahku sedikit menyeringai. Kuambil sabun dan kugosok agar mengeluarkan busa. Kemudian kuletakkan kembali sabun tersebut dan tanganku turun menyabuni vaginaku. Kusabuni keseluruhan permukaannya termasuk bulu-bulu halus di seputarnya. Kemudian tanganku mulai menyabuni bibir kemaluan dan kelentit. Kugosokkan sabun hingga busanya bertumpuk menutup vaginaku. Lalu dengan cepat kusiram hingga kembali dengan jelas tampak kemaluanku. 


Selanjutnya kini kembali jari-jariku kumasukkan ke liang vaginaku. Kukorek-korek hingga busa sabunnya menumpuk dan kembali menutup lubang vaginaku. Semua hal tersebut kulakukan sambil wajahku menampakkan ekspresi sensual yang kumiliki. Aku semakin tidak dapat membayangkan, bagaimana blingsatannya Anneke karena menyaksikan ulahku ini. Dan pada kuguyur seluruh tubuhku. untuk membilas ketiak, buah dada, puting, perut, bokongku, anus maupun vaginaku hingga aku yakin bahwa semuanya telah menjadi bersih. Kuambil handuk dari gantungan untuk mengeringkan tubuh. Kemudian aku bergegas keluar kamar mandi. Kaki di depan pintu itu dengan secepat kilat menghilang.

Aku berlagak seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Kulihat Anneke sudah kembali duduk di ruang keluarga dengan koran hari ini di tangannya. Untuk menunjukkan atensiku dan sekaligus menghilangkan segala kemungkinan kecurigaanku padanya, kutanyakan apakah dia sudah membuat teh untuk dirinya sendiri sejak pulang dari kantor tadi.
“Sudah, Mbak”, jawabnya sambil terus membaca koran.
Saat aku berpakaian, kudengar Anneke ganti bersiap-siap untuk mandi.
“Kalau mau mandi, ambil saja sabun yang baru di laci persediaan dekat TV. Sabun di kamar mandi sudah mau habis. Nanti Mas Adit juga memerlukannya”.
“Ya, Mbak”, jawabnya.
Saat aku sedang berdandan, tiba-tiba terlintas suatu pemikiran di kepalaku yang seketika berubah menjadi tuntutan erotisku. Aku juga ingin mengintip Anneke saat mandi, sekarang juga.

Pintu kamar mandi telah tertutup. Kudengar Anneke bernyanyi-nyanyi kecil. Aku berjingkat mendekat ke depan pintunya. Aku mengintip dari celah yang sama dengan celah pengintipan Anneke saat aku mandi tadi. Kudekatkan mataku ke celah itu. Kulihat Anneke sedang membuka bajunya. Tangannya ke atas menarik kaosnya. Kulihat ketiaknya yang terbuka. Wow, ketiak perawan yang membuat darahku langsung naik. Dia tidak memakai BH. Mungkin sudah dilepas di kamarnya tadi. Saat menggantungkan kausnya ke dekat pintu, serasa buah dadanya mendekat ke wajahku. Kemudian tetap dengan nyanyi kecilnya, ia melucuti rok bawah. Nampak bokongnya yang besar masih terbungkus celana dalam putihnya. Sekilas ia mengelus sesuatu yang tembem di depan celananya. Sekali lagi, ketiak dan buah dadanya mendekat ke pintu. Tangannya menggantung rok bawahnya. Dan kini ia membuka celana dalam putihnya. Aku serasa dipamerkan sebuah pesona. Vagina Anneke yang menggembung. Rambut-rambut tipisnya membuat vagina tersebut serasa memanggil lidahku yang kelak, siapa tahu, akan berkesempatan menjilatinya untuk memberikan kenikmatan pada Anneke.

Aku menatapnya dengan lebih terbeliak. Pada gundukan nikmat itu, bagian tengah atasnya mulai terbelah lembut. Semakin ke bawah, belahan itu semakin melebar karena desakan kelentitnyayang menggembung mengisi penuh belahan itu. Ingat hamburger yang berisi daging asap? Seperti itulah kira-kira penggambarannya. Kurasakan vaginaku yang mulai membasah. Kelentitnya adalah benar-benar kelentit perawan. Belum nampak lipatan-lipatan yang disebabkan oleh benda tumpul yang sering mendesaknya. Sedikit mendekati ujungnya, kelentit itu mencuat keluar. Itu mengindikasikan bahwa kelentit Anneke berukuran sangat besar. Kelentit seperti itu pasti akan sangat nikmat jika dilumat. Kemudian karena Anneke membelakangi pintu karena sedang menggosok giginya untuk beberapa saat, vaginanya tidak tampak. Tetapi kini aku dapat menyaksikan pesona yang lain, yaitu pantatnya.

Ternyata anak muda sekarang ini tak pernah melewatkan mode dan trend. Anneke memasang tatoo bergambar sebuah pesawat ulang-alik di ujung bokongnya. Entah apa maksudnya, tapi yang jelas tampak manis sekali. Saat tubuhnya sedikit membungkuk untuk bersikat gigi, belahan pantat Anneke tampak merekah. Anusnya yang hitam manis itu sangat mulus. Sebuah paduan yang penuh harmoni. Pantat anak perawan yang begitu sensual dengan alur-alur halus menuju titik klimaksnya, bibir anus yang mulus kemerahan. Aku menahan air liurku. Selesai menyikat gigi, Anneke mengambil gayung untuk mulai menyirami tubuhnya. Mula-mula tangan dan kemudian kakinya. Dia menghindari air yang dingin langsung menyiram seluruh tubuhnya. Wajib baca!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerita 7 Hari Ngentot 100 Cewek Lendir 2"

Posting Komentar