Aopok.com - Kudengar Anneke kembali menyiram tubuhnya. Tak lama kemudian, suara pintu kamar mandi terdengar berderit. Anneke baru selesai mandi. Aku mencoba membayangkan saat dia baru keluar dari kamar mandi dengan menjinjitkan kakinya karena khawatir telapak kakinya akan membasahi lantai keramikku. Kubayangkan rambutnya yang masih basah dengan handuk yang melilit tubuh indahnya. Kubayangkan tetes-tetes air yang jatuh dari tubuhnya ke lantai, tercecer dalam kristal-kristal yang bening. Kubawa terlena semua bayang-bayangku hingga akhirnya aku tertidur.
Mas Adit pulang baru pada pukul 8 malam. Atas inisiatifnya sendiri yang selalu tak pernah dapat kucegah, Anneke menyiapkan makan malam kami. Dari persediaan bahan yang ada di lemari es, dia memasak masakan ala serba Thai. Ada kangkung pedas, ada Tom Yang Goong dan menu utamanya adalah Pla Jian, masakan dari ikan campur jahe. Ah, anak ini memang benar-benar pintar membawa diri.
Suamiku makan dengan lahapnya. Selama makan, aku berlagak seakan tak ada hal aneh yang pernah terjadi. Seakan aku tak tahu bahwa dia telah mengintipku mandi, dan sebaliknya aku juga tidak ingin menimbulkan kecurigaannya bahwa aku juga telah mengintipnya saat dia mandi. Besok Anneke akan menghadapi wawancara akhir yang akan berlangsung di kantornya pada pukul 11 siang. Rencananya, dia akan berangkat dari rumah besok pada pukul 10 pagi. Dia sudah memperhitungkan bahwa paling lama dalam waktu 30 menit, dengan taksi dia akan dapat mencapai kantornya.
Hari ke-4
Seperti biasanya, Mas Adit sudah berangkat ke kantor pada pukul 7.30 pagi. Setelah menyapu lantai, aku langsung mandi. Kali ini aku pergi mandi dengan tersenyum geli. Aku akan mandi berdasarkan sebuah skenario yang telah kupersiapkan masak-masak dalam benakku sejak malam menjelang tidur. Sebelumnya, aku mondar-mandir di ruang keluarga dengan bermantelkan handuk mandi yang membungkus tubuh, handuk yang baru kali ini kupakai sejak Mas Adit membelikannya sepulang dari Hongkong bulan lalu. Aku ingin memastikan bahwa Anneke mengetahui saat aku akan mandi. Saat kututup pintu kamar mandi, sengaja kuperdengarkan dengan keras saat slot kunci pintu kupasang. Kuperdengarkan juga suara-suara air yang menyirami kakiku. Semua itu memang kumaksudkan agar Anneke mengetahui bahwa aku sekarang sedang akan mandi. Dan sesuai dengan harapanku, kulihat kembali kaki indah itu dari celah bawah pintu kamar mandi. Kaki Anneke. Terselip rasa geli dalam hatiku. Aku seperti anak-anak yang begitu senang mendapatkan mainannya. Dan kurasakan betapa main-main seperti ini dapat menyenangkan hati pula. Aku tersenyum sendiri sambil terbatuk-batuk.
Aku membayangkan diriku seolah penari striptease yang sedang berada di atas panggung hiburan. Kulepas busanaku satu persatu dengan gaya erotis. Pertama, kulepas ikat pinggang mantel handukku. Kemudian aku bergaya seolah menggulung rambutku. Gaya seperti ini akan tampak menggairahkan apabila terlihat dari arah samping. Oleh karenanya aku berdiri di dekat bak mandi secara menyamping dari arah pintu. Kemudian kulepas mantelku dan kugantung di gantungan baju di balik pintu. Aku yakin saat ini jantung Anneke mulai berdegup kencang. Sebelum aku melepas BH-ku, kumasukkan tangan untuk menggaruk-garuk buah dadaku seolah gatal sambil sedikit mendesah. Aku juga menggosok leherku. Ini kulakukan untuk menunjukkan pada Anneke betapa sensualnya leherku. Aku kemudian mengelus dagu, rahang hingga belakang telingaku. Tempat-tempat itu biasanya merupakan sasaran bibir dan lidah saat seseorang berkesempatan untuk mencium dan menjilatinya.
Kugosok juga ketiakku. Kuangkat tinggi-tinggi tangan kiriku kemudian kuelus dan kugaruk lembut lembah ketiakku. Teman dan tetanggaku Indri, sangat keranjingan apabila menyaksikan ketiakku karena menurutnya ketiakku indah dan harum seperti ketiak dewi dari surga. Maklum saja, itu menurut orang yang sedang keranjingan. Kemudian kedua tanganku meraih kancing BH di punggungku.
Artikel Terkait
Gaya membuka kancing BH ini adalah juga sesuatu yang sangat disenangi oleh para wanita dan pria hidung belang, karena saat membuka kancing BH, seorang wanita akan memperlihatkan lengannya yang mulus, sedikit ketiaknya, juga dadanya yang tertarik ke belakang hingga payudara akan tampak lebih kencang dan menggembung. BH itu kembali kusangkutkan di gantungan baju. Aku teringat celana dalam kotorku kemarin yang telah dilumat oleh bibir dan lidah Anneke. Sekarang akan kutinggal BH-ku di gantungan ini. Aku ingin melihat ekspresi Anneke saat menciumi BH-ku nanti. Kemudian kuamati perutku yang masih mulus tanpa lipatan.
Kini saatnya kurogoh celana dalamku. Dengan melewati ‘tahi lalat’ yang berada di tepi celana dalamku, kuelus kemaluanku. Kumasukkan jari-jari ke belahan kemaluanku dan menggosoknya. Kemudian kuperosotkan celana dalamku hingga terentang di kedua pahaku dan kembali dengan tangan kuelus bibir vaginaku yang kini sepenuhnya terbuka. Kulihat kaki Anneke belum bergerak dari tempatnya. Kupikir, tentunya saat ini dia sedang mati-matian berusaha menahan gejolak birahinya. Aku tersenyum geli dengan permainanku sendiri. Lanjut baca!

0 Response to "Cerita 7 Hari Ngentot 100 Cewek Lendir 3"
Posting Komentar