Topoin.com - Sementara, walau bagaimanapun juga aku tetap harus berusaha untuk menjaga jarak. Aku tidak ingin dianggap mengajarkan sesuatu yang tidak baik di tengah keluarga Mas Adit karena tentu mereka akan sulit menerima kenyataan tersebut. Mereka adalah orang-orang yang sudah sedemikian ketatnya terkondisikan oleh pandangan-pandangan moral mapan yang tak begitu saja bisa diubah. Anneke merupakan generasi muda dengan perkecualian yang sangat minoritas. Dia sudah dapat lebih melihat dunia nyata yang demikian luas. Dia sering menjelajahi jaringan dunia tanpa hambatan yang kita sebut sebagai Internet. Dia juga sudah menyadari akan pentingnya sikap dan karakter pilihannya sendiri. Dia sudah sadar mengenai pentingnya seseorang bersikap dan berlaku sebagai “myself” , untuk dapat menunjukkan keberadaannya di lingkungannya. Dia adalah cermin generasi masa kini dan masa datang. Dia membawa sendiri nilai-nilai dan sekaligus dia laksanakan nilai-nilai itu, walaupun seperti yang kulihat sekarang, dia juga belum sepenuhnya terbebas dari keragu-raguan. Kuanggap itu adalah hal yang wajar dan manusiawi, karena pada masa kini tidak semua orang dapat berlaku sembrono atau serampangan.
Beberapa saat setelah sampai di rumah, aku langsung mandi. Aku ingin agar dia mendapatkan kesenangan yang benar-benar memuaskan hatinya sebelum dia pulang ke Madiun besok. Aku pergi ke kamar mandi hanya dengan lilitan handuk di tubuh. Kuperlihatkan sedikit pahaku dan cukup banyak memperlihatkan punggung serta bagian atas dadaku yang mulus. Aku berpura-pura mengambil sesuatu di tumpukan koran dekat Anneke yang kebetulan sedang menonton TV di ruang keluarga. Aku menanyakan apakah barang-barang yang akan dibawanya pulang besok sudah dibungkus. Kalau belum aku menawarkan padanya untuk menggunakan kantong-kantong yang masih bagus yang sering kudapatkan saat aku berbelanja dan sengaja aku kumpulkan. Mata Anneke nampak nanar memandang tubuhku sambil menyetujui tawaran baikku. Kemudian aku berjalan ke kamar mandi.
Ah, rupanya kembali kutemukan celana dalam dan BH kotornya. Jangan-jangan ini disengajanya karena dia demikian menikmati saat mengintipku dan demikian bernafsu melumati barang-barangnya kemarin sore hingga kini dia berharap agar aku mengulanginya kembali. Ini adalah celana dalam dan BH kotor lain yang ditinggalkannya saat mandi tadi pagi. Aku kembali menggigil karena nafsu birahiku.
“Jangan khawatir Anneke, aku akan mengulangi kenikmatan menciumi dan melumati celana dalam dan BH kotormu”, batinku.
Aku melirik ke bawah pintu. Kulihat kaki Anneke sudah kembali bersemayam di sana. Seperti halnya kemarin, aku mulai dengan membuka kloset dan duduk di atasnya. Tetapi kali ini bukannya untuk membuang air besar, melainkan hanya sekedar pipis. Aku pipis banyak sekali karena telah minum macam-macam di Mangga Dua tadi. Dari Coca Cola, air mineral, dawet asli Solo, es kunyit asam, es kelapa muda dan lain-lain. Pokoknya kalau merasa haus, aku biasanya langsung mencari minum. Di setiap sudut Mall Mangga Dua memang selalu ada kios kecil yang menyediakan minuman berbagai rupa.
Selesai pipis aku cebok dan kloset kututup tetapi tanpa membuka pelepasan airnya. Kubiarkan air seniku tetap di tempatnya. Wajahku demikian nanar memandang ke arah pintu dimana celana dalam dan BH Anneke masih tergantung di dekatnya. Kemudian aku meraihnya BH dan celana dalam sambil menciuminya dan mendesahkan nama Anneke. Aku menjadi benar-benar sangat menjiwai dan terangsang. Dengan terburu-buru, sambil sangat gemetar kubuka tutup air kloset. Kuambil dildo yang kuletakkan menempel di sana. Dengan tetap menjilati dan melumat celana dalam kotornya, kupompakan dildo tersebut ke vaginaku. Aku sudah tak sempat lagi mencari gaya-gaya yang atraktif karena kini aku sedang dikejar gejolak birahiku. Aku melakukan apa saja yang dapat demikian kuat mendorongku. Aku rebah ke lantai kamar mandi yang basah dan melipat kakiku ke arah tubuhku hingga pantat dan vaginaku terpampang dengan jelas. Kumasukkan dildo menembus vaginaku. Aku menjerit kecil saat dildo itu telah melewati bibir vaginaku. Kemudian aku mulai memompanya sambil mencium dan melumat celana dalam Anneke.
Artikel Terkait
‘Anneke.., aahh.., nikmatnyaa Annekee..”, begitu terus menerus desahanku setengah merintih.
Terjangan dildoku semakin cepat memompa vagina. Aku mendesah dan meracau dengan memanggil-manggil nama Anneke. Ketika panas birahiku sudah demikian memuncak dan rasa ingin pipis yang sangat mendesak sebagai tanda orgasme akan datang, pantatku menyongsong gerakan dildo dengan cepat. Nafasku yang memburu dengan desahan-desahan yang menyebut nama Anneke semakin intens dan berkepanjangan. Aku nampak sangat memelas dalam kehausan birahiku. Dan akhirnya saat orgasme itu datang, aku menggelepar. Kudempetkan kepalaku ke dinding untuk menahan jejakan kepalaku ke lantai karena menahan nikmat yang muncrat bertubi-tubi. Lanjut baca!

0 Response to "Cerita 7 Hari Ngentot 100 Cewek Lendir 6"
Posting Komentar